JURNAL DWIMINGGUAN MODUL 1.4
Nama CGP : AHMAD ZAKARIA
Pengajar Praktik : MOHAMAD SYARIF ABDULLAH
Fasilitator : EVITA WAINDRIYANI
Refleksi Dwimingguan Modul 1.4
Budaya Positif
Saya akan melakukan refleksi modul 1.4 dengan menggunakan model 4C (Connection, challenge, concept, change). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini, yaitu:
1. Connection (keterkaitan materi)
Pada modul 1.4 tentang “Budaya Positif”. Melalui model kegiatan pembelajaran yang menggunakan alur “MERDEKA” saya mendapat pembelajaran yang bermakna. Dimulai dari : Bagian M yaitu mulai dari diri. Alur ini saya diharuskan dapat menciptakan lingkungan positif serta mendukung murid menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab, sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara, saya diharuskan menerapkan budaya positif di sekolah dengan nilai kebajikan universal. Bagian E yaitu eksplorasi konsep, saya mempelajari beberapa modul yang sangat penting terkait budaya positif seperti Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi , Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi: 5 Posisi Kontrol, Restitusi: Segitiga Restitusi. Bagian R adalah ruang kolaborasi, disini kami belajar berdiskusi dan presentasi dengan rekan sesama calon guru penggerak. menganalisis kasus-kasus yang tersedia dalam LMS berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. kami mendiskusikan strategi-strategi agar konsep-konsep dalam disiplin positif dapat menjadi standar tindak lanjut kasus pelanggaran disiplin di sekolah. Dan kami mempresentasikan hasil analisisnya secara sinkronus, dan kelompok lain akan menanggapi. Bagian D adalah demonstrasi konsep, yaitu membuat dua kasus dan mempraktikkan segitiga restitusi berdasarkan kasus yang telah dibuat. Bagian E selanjutnya elaborasi pemahaman, yaitu melakukan diskusi dengan rekan sesama calon guru dengan skala besar bersama instruktur untuk menguatkan pemahaman akan materi konsep modul 1.4 budaya positif, serta merefleksikan pemahaman mengenai pentingnya Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal, Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Keyakinan Kelas, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Restitusi: 5 Posisi Kontrol, Restitusi: Segitiga Restitusi diterapkan disekolah sehingga tujuan pendidikan tercapai. Bagian K adalah koneksi antar materi, yaitu membuat keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada sebelumnya yaitu modul 1.1, 1.2 dan 1.3 sehingga dapat mulai menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Dan bagian yang terakhir A yaitu aksi nyata, dengan penyebaran pemahaman atau menyampaikan kepada para pemangku kepentingan di sekolahnya mengenai perubahan paradigma dan penerapan strategi disiplin positif di sekolah masing-masing agar dapat menciptakan budaya positif. Diharapkan kegiatan ini akan membantu murid belajar dengan aman dan nyaman sehingga dapat meraih keselamatan dan kebahagiaan, sebagaimana disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara mengenai tujuan utama pendidikan.
2. Challenge (Tantangan)
entu dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam kebaikan akan ada tantangan yang akan dihadapi. Saya harus menghadapi tantangan tersebut dengan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah yang ada untuk mendapatkan hasil untuk mewujudkan siswa yang bahagia, mandiri, dan bertanggung jawab.
Hambatan dan kesulitan dalam proses pembentukan budaya positif adalah belum semua warga sekolah mengetahui dan memahami makna keseluruhan dari budaya positif ini. Sehingga kesulitan dan hambatan timbul. Usaha dan upaya saya untuk mengatasi hambatan dan kesulitan tersebut adalah dengan melakukan penyebaran paham atau mendesiminasikan pengetahuan terkait budaya positif ini sehingga semua warga sekolah memahaminya. Sehingga akan tercipta budaya positif di sekolah sesuai dengan yang diharapkan.
3. Concept (konsep)
Saya sudah memahami konsep-konsep inti dalam modul budaya positif berkaitan dengan disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, posisi kontrol guru dan segitiga restitusi. Seluruh konsep inti tersebut harus diresapi dalam diri, diwujudkan dalam tindakan dan pemahaman tersebut harus dibagikan pada rekan guru di sekolah agar tercipta budaya positif di sekolah.
Hal yang menarik bagi saya dan di luar dugaan adalah saat saya mempelajari motivasi perilaku manusia berupa penghargaan. Ternyata penghargaan dapat berdampak kurang baik bagi murid diantara dapat merusak hubungan, mengurangi ketepatan, menurunkan kualitas dan mematikan kreativitas dan bersifat menghukum dan menyebabkan murid hanya muncul motivasi eksternal karena ingin mendapatkan penghargaan bukan motivasi internal atas kesadaran dari dalam dirinya. Dan juga kita sebagai guru harus membuat keyakinan kelas secara bersama-sama dengan murid diawal semester ini gunanya untuk menjalankan segitiga restitusi karena dengan keyakinan dan kesepakatan kelas bersama kita bisa menstabilkan kelas dan memvalidasikan tindakan yang salah serta menanyakan keyakinan tersebut.
Sebelum mempelajari modul ini saya melakukan posisi kontrol sebagai penghukum dan pemantau dan setelah mempelajari modul ini perubahan yang saya lakukan merubah posisi kontrol sebagai manajer dengan cara menangani masalah dengan menggunakan segitiga restitusi dengan menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.
4. Change (perubahan)
Perasaan saya sangat termotivasi untuk terus melakukan perubahan dan memperbaiki diri sesuai dengan nilai-nilai budaya positif di sekolah. Hal yang sudah baik menurut saya adalah sudah mulai munculnya motivasi internal pada murid untuk melaksanakan budaya positif sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang diyakininya Yang harus diperbaiki adalah posisi kontrol guru harus sebagai manajer.
Sebelum mempelajari modul ini posisi kontrol saya adalah penghukum dan pemantau perasaan saya saat itu selalu diliputi perasaan bersalah karena harus memberikan hukuman atau konsekuensi jika anak berbuat kesalahan. Setelah mempelajari model ini saya mulai menerapkan posisi manajer dalam menyelesaikan masalah titik perasaan saya menjadi sangat tenang dan saya mulai menyadari pentingnya komunikasi yang efektif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri murid.
Hal lain yang penting dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif adalah melakukan kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid agar budaya positif ini jangan hanya dilakukan di sekolah atau di kelas saja namun juga di rumah, agar menjadi suatu kebiasaan karakter saat berada di lingkungan sekolah atau di lingkungan manapun.

Komentar
Posting Komentar